Tags
Bengkulu – Tim pengabdian Universitas Bengkulu menggelar sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan kembali limbah ampas kopi menjadi produk interior tableware di Kantor Kelurahan Kandang Limun, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, Rabu (27/8/2026). Kegiatan yang merupakan bagian dari Skema PPM-K UNIB Tahun 2026 ini diikuti oleh 20 anggota PKK Kelurahan Kandang Limun.
Kegiatan tersebut berangkat dari persoalan sederhana yang banyak ditemui dalam keseharian, yakni ampas kopi yang setelah digunakan biasanya langsung dibuang. Padahal, ampas kopi masih dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk, termasuk produk interior.
Bengkulu sendiri memiliki potensi kopi yang cukup besar. Dalam materi kegiatan disebutkan bahwa berdasarkan data BPS 2024, Bengkulu menjadi salah satu daerah penghasil kopi robusta dengan produksi pada 2023 mencapai sekitar 55 ribu–80 ribu ton per tahun dan luas lahan lebih dari 85.000 hektare. Seiring berkembangnya usaha pengolahan kopi dan minuman berbahan kopi, jumlah ampas yang dihasilkan juga ikut meningkat.
Persoalan tersebut juga terlihat dari aktivitas pelaku usaha kopi. Berdasarkan wawancara yang menjadi bagian dari kegiatan, salah satu penjual minuman olahan kopi menghasilkan sekitar 20 kilogram ampas kopi setiap hari. Jika dihitung selama satu tahun, jumlahnya mencapai sekitar 7.300 kilogram dari satu tempat usaha saja.
Mengenalkan Potensi Ampas Kopi
Melalui kegiatan ini, masyarakat Kelurahan Kandang Limun tidak hanya diberikan pemahaman mengenai dampak limbah kopi, tetapi juga diperkenalkan pada cara memanfaatkannya kembali. Kelurahan Kandang Limun merupakan salah satu desa binaan Universitas Bengkulu yang masyarakatnya masih memiliki keterbatasan informasi mengenai potensi pengolahan ampas kopi.
Tim pengabdian kemudian mengarahkan pemanfaatan ampas kopi menjadi tableware. Produk yang diperkenalkan dalam pelatihan meliputi mangkuk atau piring, alas gelas, dan tempat tisu.
Tableware merupakan perlengkapan yang digunakan untuk menata meja, menyajikan makanan, maupun menikmati hidangan. Dalam kegiatan ini, peserta diarahkan untuk membuat produk yang tidak hanya dapat digunakan kembali, tetapi juga memiliki nilai visual dan potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Kegiatan berlangsung selama tiga setengah jam, mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB. Peserta mengikuti proses sosialisasi sekaligus praktik secara langsung, mulai dari pengenalan material hingga proses pembuatan produk. Dokumentasi kegiatan menunjukkan peserta terlibat langsung dalam proses pengolahan dan menghasilkan sejumlah bentuk tableware berbahan ampas kopi.
Dari Limbah Menjadi Produk
Ketua tim pengabdian, Dwi Rina Utami, S.T., M.Arch., bersama Dr. Fitrianty Wardhani, S.T., M.T., Dwi Putri Lestarika, Niska Ramadhani, Latifah Shila Mukti, Ilmi Kurnia Putri, dan Putri Ayu Wardani melaksanakan kegiatan ini sebagai bagian dari pengabdian Universitas Bengkulu kepada masyarakat.
Bagi peserta, kegiatan ini memberikan pengalaman baru dalam melihat ampas kopi. Material yang sebelumnya dianggap sebagai sisa buangan diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat diolah dan dimanfaatkan untuk menghasilkan produk.
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui bahwa ampas kopi dapat dimanfaatkan, tetapi juga memiliki keterampilan dasar untuk mengolahnya menjadi produk yang lebih berguna. Pengolahan ini sekaligus membuka kemungkinan pengembangan produk yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi oleh Universitas Bengkulu, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Selain memberikan pengetahuan dan keterampilan, kegiatan tersebut diarahkan untuk mendukung pola konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab sesuai dengan tujuan SDGs Nomor 12.
Ke depan, pemanfaatan ampas kopi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan berbagai produk berbahan limbah kopi yang lebih bermanfaat, sekaligus mengurangi limbah yang sebelumnya langsung dibuang.
(Penulis: Muhammad Naufal Hidayat)